BERSYUKUR SETIAP SAAT
Nama : IRMA FIBIA DAMAYANTI
No. Peserta ku : 13101129
Dari begitu bangun pagi di kamar
lantai ata sampai turun ke lantai bawah, sudah berapa kali saya mengucapkan
terima kasih dan bersyukur?
Mungkin
sudah lima kali sampai tujuh kali. Dalam satu hari? Berapa kali saya
berterimakasih dan bersyukur di dalam hati? Bepara kali yang saya ucapkan
dengan lantang bersuara dengan orang lain? Mungkin bisa 50 sampai 100 kali,
bisa jadi lebih, karena tidak saya hitung.
Tidak praktis kedengarannya? Kok ya
aneh mengucapapkan terima kasih sampai puluhan kali dan satu hari? Bahkan
ratusan kali? Jawabnya mudah saja: dengan berterima kasih dan bersyukur, kita
selalu mencari sisi positif dari segala sesuatu. Dengan mencari sisi positif,
maka diri kita menjdi semkanoin positif dalam melihat segalan sesuatu. Pasti
ada putigh setitik di dalam hitam positif dalam melihat segala sesuatu. Pasti
ada putih setitik di dalam hitam kelam dan ada hitam setitik di dalam putih
bersih.
Dengan selalu mengingat kelimpahan kita,
otak kita mencetak keyakinan (believe) bahwa memang benar klita hidup dalam
kelimpahan. Mka, semua perbuatan kita di dasari oleh keyakinan ini, termasuk
presepsi diri kita sebagai pernifikasi dari sukses. Lantas, sampai kapan perlu mengucapkan terima kasih da
bersyukur berpuluh puluh kali tersebut? Sepanjang hayat.
Ah,
tidak praktis, mungkin ada yang berpendapat demikian. Sekali lagi bahwa ini
tidak mengajarkan untuk sukses dalam semalam, namun dengan mengubah mindset (pola pikir) maka segala faktor
eksternal yang sering menjadi atribut orang sukses akan datang dengan
sendirinya bagaikan arus sungai.
Berterima
kasih dan bersyukur toh tidak memerlukan modal uang maupun sumber daya apa pun.
Intinya hganya satu, yaitu kemauan keras untuk mengubah diri. Jangan pikirkan
“pahala” yang anda dapat dari perbuuatan ini dlu. Jangan pula mengharap nasib
akan berubah dalam sekejab. Yang jelas dengan mengucapkan terima ksigh kepada
orang lain tanpa ada rasa keterpaksaan dan rasa canggung saja sudah merupakan
jembatan kita ke dalam hatiorang itu.
‘Terima
kasih” Tidak akan pernah di tolak oleh orang lain,
malah biasanya disambut dengan senyum lebar dan hati yang sedikit lebih lembut
daripada sebelumnya. Ini saja sudah merupakan magnit yang bisa membantu kita
semua dalam memproyeksi diri yang sukses keluar. Jadi, jika ada seragu-raguan dan ke-engganan untuk berterima kasih
dan bersyukur dalam sklala dan frekuensi luar biasa, maka sebaiknya anda
urungkan niat Anda untuk menjadi personiofikasi dari sukses itu sendiri. Amin…